Senin, 19 Maret 2012

Mukminah yang Senantiasa Sadar


Mukminah  yang Senantiasa Sadar

Ukhti fillah yang dimuliakan Allah I, seorang wanita Mukminah yang beriman kepada Allah I, ia akan memiliki kepekaan yang muncul dari keimanannya kepada Rabbnya.
Satu hal yang membedakan wanita Muslimah dengan wanita yang lain ialah, imannya yang mendalam kepada Allah dan keyakinannya bahwa apapun peristiwa yang terjadi di alam dan apa pun yang terjadi pada diri manusia, semuanya karena qadha dan takdir Allah Y. Tentunya keyakinan seperti ini akan melahirkan suatu sikap yang benar, yaitu sebuah keyakinan bahwa semua musibah yang menimpa manusia bukan dimaksudkan untuk mencelakakan manusia. Semua kejadian dan musibah yang terjadi adalah atas pengetahuan dan izin dari Allah I. Kewajiban manusia adalah berusaha meniti jalan kebaikan dan kebenaran, mencari faktor-faktor yang dapat mendatangkan amal shalih, apakah itu dalam masalah agama maupun dunianya, sambil bertawakal dengan sebenar-benarnya tawakal,  menyerahkan seluruh urusan kepada-Nya, yakin bahwa dia senantiasa membutuhkan pertolongan, bimbingan, dan ridha-Nya.    
Terdapat sebuah kisah mengenai keyakinan seorang wanita yang teguh dalam keimanannya.  Kisah Hajar, istri Nabi Ibrahim dan ibunda Isma'il. Ia pernah ditinggalkan di Makkah (dekat Baitullah) dan pada saat itu lembah tersebut tidak ada orang, tidak ada tanaman, dan juga tidak ada air. Ia hanya ditemani oleh putranya yang masih bayi dan masih menyusu, Ismail, dan juga satu kantong kurma dan satu wadah kulit yang berisi air. Kisah ini menyajikan satu gambaran yang sangat mengagumkan di hadapan wanita Muslimah, tentang dalamnya iman kepada Allah dan tawakal serta kepasrahan yang utuh kepada-Nya. Dengan tegar, mantap, dan penuh keyakinan, Hajar bertanya kepada Ibrahim,
“Allah-kah yang menyuruh engkau berbuat seperti ini wahai Ibrahim?”
 “Benar,” jawab Ibrahim.
 “Kalau begitu Dia tidak akan menyia-nyiakan kami,” jawab hajar penuh keridhaan dan disertai keyakinan akan datangnya kabar gembira dan perlindungan.
Ketika Hajar mengetahui bahwa tindakan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim u merupakan perintah dari Allah I, ia sangat yakin bahwa Allah Y tidak akan mencelakakan dirinya bahkan akan memberikan perlindungan kepadanya. Kisah keteguhan Hajar ini dikenang terus oleh seluruh manusia ketika melakukan ibadah haji dan umrah, yaitu pada saat sa'i dari Shafa ke Marwa sebanyak 7 kali.
Saudariku wanita Muslimah....!, lihatlah keyakinan Hajar terhadap keputusan dan perintah Allah. Ketika mendengar perintah dari Allah, ia langsung menerima, tunduk dan taat terhadap perintah tersebut, sami'na wa atha'na, tanpa ada keraguan sedikit pun.
Sungguh merupakan tindakan yang sangat berat dan menggugah rasa, bagaimana seorang laki-laki harus meninggalkan istri dan anaknya yang masih menyusu di tengah hamparan padang pasir, tidak ada tetumbuhan, tidak ada air, tidak ada seorang manusia pun. Setelah itu Ibrahim langsung berbalik ke negeri Syam yang amat jauh. Dia hanya meningalkan satu kantong berisi korma dan satu wadah dari kulit yang berisi air. Andaikan tidak ada iman yang mendalam dan memenuhi hati Hajar, andaikan tidak ada tawakal yang utuh kepada Allah yang menghiasi perasaannya, tak bakalan dia sanggup menghadapi keadaannya saat itu dan tentu dia akan roboh tak berdaya sejak awal mula berada di sana. Jika hal ini terjadi kepada kita, mungkin sangatlah sulit bertahan dalam kondisi seperti itu.
Wahai Ukhti…, lihatlah perintah Allah kepada wanita Muslimah di zaman sekarang...! Tidak sesulit apa yang diperintahkan kepada Hajar. Apakah kita masih tetap enggan untuk melaksanakan perintah-Nya???
Ukhti fillah yang dimuliakan Allah I, sungguh keyakinan, iman dan tawakal ini akan menghasilkan buah-buah yang sangat mengagumkan dalam kehidupan seorang Muslim dan Muslimah, yang menggugah perasaan, dan membangkitkan sanubari, bahwa Allah menyaksikan dan mengetahui semua rahasia, bahwa Dia selalu mengawasi manusia dimana pun ia berada.
Terdapat sebuah kisah lagi yang dinukil oleh Ibnul-Jauzi dalam bukunya, Ahkamun-Nisa', berkaitan dengan keteguhan iman seorang wanita Mukminah. Kisah ini berasal dari Abdullah bin Zaid bin Aslam rahimahullaah, dari ayahnya dari kakeknya. Seorang wanita yang tidak mau mencampur susu (barang dagangannya) dengan air, karena perbuatan tersebut adalah perbuatan tercela dan Amirul-Mukminin (Umar bin Khaththab t) mengumumkan keputusan bahwa tidak boleh mencampur susu dengan air. Wanita ini disuruh oleh ibunya agar mencampur susu dengan air.
"Wahai putriku, ambillah susu itu dan campurlah ia dengan air!" perintah ibu kepada putrinya.
Putrinya menjawab, "Wahai ibundaku, apakah ibu tidak tahu keputusan yang diambil Amirul-Mukminin pada hari ini?"
"Apa memang keputusan yang diambilnya wahai putriku?" tanya sang ibu.
"Dia memerintahkan seseorang untuk mengumumkan, bahwa susu tidak boleh dicampur degan air," jawab putrinya.
Ibunya mengatakan, "Wahai putriku, ambil saja susu itu dan campuri ia dengan air, toh saat ini kamu berada di suatu tempat yang tidak bisa dilihat Umar."
Namun putrinya tetap menolak dan mengatakan, "Tidak wahai ibu, aku sama sekali tidak akan menaatinya di saat ramai dan mendurhakainya di saat sepi." Wanita ini tetap pada pendiriannya, tidak mau melakukan perbuatan tercela, padahal yang memerintahkannya adalah ibunya sendiri. Umar yang sedang meronda dan kebetulan berada di dekat rumah kedua wanita ini ternyata mendengar percakapan mereka berdua. Umar menyuruh Aslam menandai rumah tadi dan setelah kembali ke rumah Umar menyuruh Aslam untuk menyelidiki siapa wanita yang menolak mencampur susu dengan air dan siapa wanita yang berbicara dengannya.
Keesokan harinya Aslam melaporkan bahwa wanita yang tidak mau mencampurkan susu dengan air itu adalah seorang gadis sedang wanita yang berbicara dengannya adalah ibunya. Maka  Umar memanggil anak-anaknya dan menawarkan kepada mereka siapa diantara mereka yang mau memperistri gadis ini. Dia berkata,
"Apakah di antara kalian ada yang membutuhkan seorang wanita sehingga aku ingin menikahkan engkau dengan seorang wanita?[1] Andaikan ayah kalian masih berminat kepada seorang wanita, tentu salah seorang dari kalian tidak akan bisa mendahului ayah untuk mendapatkan anak gadis ini."
Abdullah dan Abdurrahman menyatakan bahwa mereka telah memiliki istri. Ashim belum memiliki istri dan bersedia memperistri gadis tersebut. Lalu Umar mengirim utusan dan menikahlah mereka. Dari pernikahan mereka lahirlah seorang putri dan dari putri ini lahirlah Umar bin Abdul Aziz. Jadi Umar bin Abdul Aziz adalah cicit dari Umar bin Khattab t.
Dari kisah ini kita dapat melihat bagaimana teguhnya keyakinan seorang wanita Mukminah. Ia tidak mau menuruti perintah ibunya pada saat perintah sang ibu tidak patut untuk ditaati dan melanggar larangan Allah subhaanahu wa ta'ala.
Imam Ibnu Qayyim rahimahullaah pernah menyatakan bahwa syari'at islam dibangun di atas kemaslahatan bagi diri orang yang mengamalkannya dan hal itu bersifat abadi, artinya dapat dilaksanakan olah siapa saja dan kapan saja.
Terkadang dalam menjalankan syariat kita tidak perlu lebih jauh mengetahui faktor-faktor penyebab mengapa suatu syariat diperintah oleh Allah I. Ketaatan-lah yang diperlukan dalam menjalankan syari'at. Para sahabat, radhiallaahu 'anhum, ketika suatu syari'at diturunkan dan diperintahkan untuk dijalankan, mereka tidak pernah mempermasalahkan 'kenapa' syari'at tersebut diturunkan, namun yang mereka tanyakan adalah 'bagaimana' cara melaksanakan syari'at tersebut. Demikian pula hendaknya dengan kita.
Wahai Ukhti…, aqidah wanita Muslimah yang ditegakkan diatas keimanan kepada Allah I akan selalu lurus, bersih dan suci serta tidak akan terlumuri kebodohan, khurafat dan keraguan. Allah I berfirman:
ö@è% .`tB ¾ÍnÏuÎ/ ßNqä3w=tB Èe@à2 &äóÓx« uqèdur 玍Ågä Ÿwur â$pgä Ïmøn=tã cÎ) óOçFZä. tbqçHs>÷ès? ÇÑÑÈ šcqä9qà)uy ¬! 4 ö@è% 4¯Tr'sù šcrãysó¡è@ ÇÑÒÈ
“Katakanlah, 'Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu, sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat melindungi dari (adzab)-Nya jika kalian mengetahui?' Mereka akan menjawab 'Kepunyaan Allah'. Katakanlah, '(kalau demikian) maka dari jalan manakah kalian ditipu?' (Q.S. Al-Mukminun: 88-89).
Wanita Muslimah akan melihat hakikat kehidupan sebagai tempat ujian dan menentukan pilihan.
È@è% ª!$# ö/ä3ÍŠøtä §NèO óOä3çFÏJム§NèO ö/ä3ãèyJøgs 4n<Î) ÇPöqtƒ ÏpyJ»uŠÉ)ø9$# Ÿw |=÷ƒu ÏmŠÏù £`Å3»s9ur uŽsYò2r& Ĩ$¨Z9$# Ÿw tbqçHs>ôètƒ ÇËÏÈ
“Katakanlah 'Allahlah yang menghidupkan kalian kemudian mematikan kalian, setelah itu mengumpulkan kalian pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui'.” (Q.S. Al-Jatsiyah: 26)
óOçFö7Å¡yssùr& $yJ¯Rr& öNä3»oYø)n=yz $ZWt7tã öNä3¯Rr&ur $uZøŠs9Î) Ÿw tbqãèy_öè? ÇÊÊÎÈ
“Maka apakah kalian mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kalian secara main-main (saja), dan bahwa kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (Q.S. Al-Mukminun: 115).
x8t»t6s? Ï%©!$# ÍnÏuÎ/ à7ù=ßJø9$# uqèdur 4n?tã Èe@ä. &äóÓx« 퍃Ïs% ÇÊÈ Ï%©!$# t,n=y{ |NöqyJø9$# no4quptø:$#ur öNä.uqè=ö7uÏ9 ö/ä3ƒr& ß`|¡ômr& WxuKtã 4 uqèdur âƒÍyèø9$# âqàÿtóø9$# ÇËÈ
 “Mahasuci Allah yang di Tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kalian, siapa diantara kalian yang lebih baik amalnya. Dan, Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Q.S. Al-Mulk: 1-2)
Wanita Muslimah juga sangat yakin bahwa segala amal yang dilakukannya akan dibalas di akhirat nanti. Timbangan hisab di hari akhir nanti benar-benar teliti dan tidak lolos dari perhatian Allah I walaupun sebesar biji sawi.
ßìŸÒtRur tûïκuqyJø9$# xÝó¡É)ø9$# ÏQöquÏ9 ÏpyJ»uŠÉ)ø9$# Ÿxsù ãNn=ôàè? Ó§øÿtR $\«øx© ( bÎ)ur šc%Ÿ2 tA$s)÷WÏB 7p¬6ym ô`ÏiB @AyŠöyz $oY÷s?r& $pkÍ5 3 4s"x.ur $oYÎ/ šúüÎ7Å¡»ym
“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami menjadi orang-orang yang membuat perhitungan.” (Q.S. Al-Anbiya': 47)
Maraji : Jati Diri Wanita Muslimah hal. 23-27 dengan beberapa tambahan
dari kajian kemuslimahan Ma'had Putri Masjid Pogung Raya


[1] Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Umar mengatakan pada anak-anaknya bahwa ia menemukan sebuah mutiara, lalu ia bertanya kepada anak-anaknya siapa diantara mereka yang mau menikahi wanita yang Umar sebut sebagai mutiara itu, jika mereka tidak ada yang mau Umar yang akan menikahinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar