Rabu, 30 Januari 2013

ORA ONO IKU SING JENENGE TAHUN BARU - TAHUN BARUAN

oleh Renan Rahardian pada 30 Desember 2012 pukul 11:03 ·
"Saya rasa kita semua sepakat, bahwa perayaan tahun baru bukanlah bagian dari perkara yang masyru'iyah (disyariatkan oleh agama), terlebih lagi tahun baru masehi. Entah bagaimana sejarah awalnya, yang pasti tidak ada hubungan sedikitpun dengan syariat Islam. Di sini kita semua setuju, Alhamdulillah...."

Perayaan tahun baru sering kali dikaitkan dengan momentum-momentum khusus untuk memperbaiki diri, memulai sesuatu yang baru, atau bahkan dipercaya sebagai awal pengubahan nasib (yang ini bisa menyerempet ke perkara kesyirikan).Kita tidak akan membahas tentang acara hura-hura, pesta maksiat, membakar duit, zina massal ataupun perkara-perkara lain pengisi tahun baru yang kerusakannya sudah jelas dipahami oleh manusia normal. Mungkin lebih "renyah" jika kita berpikir bersama dan membahas tentang perkara-perkara yang lebih dekat dengan kita dan berpotensi memberikan kerusakan (sekecil apapun).

Jangan menjadi kaum yang oportunis dan cederung menunggu

Beberapa orang akan mengatakan bahwa saya adalah fundamentalis jika saya mengatakan bahwa merayakan acara tahun baru adalah perkara yang terlarang di dalam agama Islam meskipun faktanya memang begitu. Banyak saudara-saudara muslim yang meng-"enteng"-kan dengan meyakini bahwa merayakan tahun baru adalah perkara duniawi yang pada asalnya diperbolehkan. Lha terus, kalo saya boleh tanya, bagaimana merayakan tahun baru yang tidak berkaitan dengan ibadah tapi sekaligus tidak mengandung maksiat ? ..........

Biasanya, sekali lagi biasanya, jawaban yang muncul adalah tentang muhasabah, membuat resolusi dan momentum melakukan perbaikan. Maka jadilah kita kaum muslimin yang oportunis dan menunggu momentum untuk berbuat kebaikan. Muhasabah adalah sebuah kebaikan yang sangat besar, merupakan perkara syar'i dan termasuk ibadah yang utama. Muhasabah adalah perkara ibadah yang tidak terkait waktu tertentu, seorang muslim disyariatkan untuk bermuhasabah kapanpun tanpa terkait momentum khusus.

Pak Ustadz Deny Indiyatno (yang berjuang di Aksel) pernah menyatakan bahwa berbuat baik hendaknya memenuhi tiga perkara : 1. segera dilakukan, 2. dianggap kecil, 3. segera dilupakan. "Segera dilakukan", jangan menunggu tahun baru untuk memulai sebuah kebaikan, jangan menunggu maulid nabi untuk serius memperlajari siroh nabawiyah, jangan menunggu satu muharram untuk mengajak manusia meningkatkan ibadah, lakukan kebaikan sesegera mungkin.
"Badiru bi a'mali sholihah"

Lha terus, tahun baru kita harus ngapain ? ..........Ya nggak ngapa-ngapain yang istimewa. Biasa saja, malam tahun baru yang seperti malam-malam tahun lama, tidak ada bedanya meskipun beberapa orang mengambil momentum dzikiran dan muhassabah di dalam masjid dengan pengeras suara atau ada pula yang JDAR-JDOR membakar duit di kegelapan langit malam........