Kamis, 09 Februari 2012

Surat Untuk Yunus, Adikku


Kepada : Adikku, Yunus di bumi yang dirohmati Allah

Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh
Segala puji bagi Allah yang telah memberikan petunjuk kepada hambaNya yang Dia kehendaki. Maha suci Allah yang dengan kesempurnaan ilmu dan hikmahNya menentukan kebaikan untuk makhluk-makhluk yang hidup maupun mati. Tiada Ilah yang berhak diibadahi selain Allah dan Muhammad adalah hamba serta utusanNya.
Adikku, merupakan suatu taqdir yang sangat indah ketika kita dikaruniai nikmat yang khusus, yang hanya diberikan kepada hamba tertentu, yang membuat para Raja akan berperang untuk merebutnya, yang banyak manusia harus kehilangan hal-hal yang dicintai untuk memperolehnya. Nikmat yang disebut dengan menjalani hidup di atas Sunnah. Sungguh, nikmat ini harus kita syukuri dengan cara yang benar dan tepat sehingga Allah menambahnya untuk kita semua.
Akan tetapi Adikku, banyak di antara ikhwan yang ketika menyadari nikmat ini, bersama dengan itu muncul kebingungan. Suatu fitnah syubhat yang memang tanpa kita sadari disusupkan kepada hati-hati para pemuda yang sedang mulai bersemangat mempelajari sunnah. Syubhat berupa kerancuan yang akhirnya terpaksa harus diakui telah meruntuhkan semangat dan menyeret kembali para pemuda sunnah ke arah yang justru menuju sikap hizbiyah, ekstrem, dan ta’ashub. Semoga Allah menjauhkan kita dari segala hal yang menjauhkan dari surga Allah.
Adikku, kau menanyakan dua hal :
1.       Mengapa banyak Ikhwan yang sudah lama ngaji tapi belum bisa memberikan penjelasan dan dalil-dalil terkait suatu perkara yang ditanyakan pada mereka ?
2.       Bagaimana cara belajar Islam yang efektif ?
Ketahuilah, sangat sulit untuk menjawab dua pertanyaan tersebut. Bisa jadi aku merupakan salah satu dari sekian Ikhwan yang engkau maksudkan. Akan tetapi sedikit yang aku bisa katakan semoga membantumu menemukan jawaban atas dua pertanyaan tersebut
Menuntut ilmu adalah ibadah, maka sebagaimana ibadah yang lain syaithon selalu siap untuk menghalangi dan mengganggu manusia untuk melakukannya. Berikut ini beberapa hal yang termasuk penghalang menuntut ilmu :
1.       Keliru dalam niat.
Niat yang salah dalam menuntut ilmu, yakni tidak ikhlas, menjadikan rusaknya ilmu yang ada di dalam hati seseorang. Pahala tidak diperoleh, ilmu tidak bermanfaat dan amalan menjadi rusak  apabila seseorang menuntut ilmu bukan karena mencari keridhoan Allah. Padahal menuntut ilmu adalah suatu amalan ibadah yang mulia. Barangkali perkara niat ini adalah perkara terpenting yang paling banyak dilalaikan para penuntut ilmu.
Adikku, ketahuilah bahwa niat yang tercampur merupakan akibat dari godaan syaithon, hal ini tidaklah menjadi hal yang mengherankan kita. Yang semestinya membuat kita heran adalah apabila seseorang tidak mau berusaha melawan gangguan syaithon tersebut, membersihkan niat dan  justru memelihara niat yang tidak ikhlas.
2.       Ingin tampil di depan orang lain dan ingin terkenal.
Adikku, Imam Asy Syathibi berkata : “Sesuatu yang terakhir hilang dari hati orang-orang yang sholih adalah keinginan untuk tampil dan menguasai orang lain.”
Sebenarnya hal ini masih terkait dengan permasalahan niat. Pembahasannya menjadi khusus karena fitnah ini menjadi permasalahan paling serius yang menjangkit hati para penuntut ilmu. Semoga Allah menjauhkan kita dari niat buruk seperti ini. Adikku, perhatikanlah bahwa sungguh Umar ibnul Khottob pernah mencela Ubay bin Ka’ab karena banyaknya orang-orang yang senantiasa berjalan mengikuti di belakangnya. Umar bin Khottob menyatakan bahwa hal tersebut merupakan fitnah bagi yang diikuti dan kehinaan bagi yang mengikuti.
Barangkali inilah musuh kita dalam menuntut ilmu sehingga kau menemukan banyak realita di kalangan para ikhwan yang telah lama mengaji, dikarenakan Allah enggan memberikan ilmu pada mereka yang tidak ikhlas dalam mencarinya.
3.       Enggan menjalani majelis ilmu (hanya sekedar menjadi pencicip ilmu).
“Innamal ilmu bi ta’alumi” (Sesungguhnya ilmu hanya diperoleh dengan dicari). Di dalam potongan pernyataan hadits ini terdapat pula makna bahwasanya ilmu haruslah dicari secara terus menerus, tanpa berhenti, tanpa kalah oleh lelah dan senantiasa iltizam. Imam Syafi’i menyatakan bahwa salah satu cara memperoleh ilmu adalah dengan mulazamah.
Ilmu haruslah dicari secara beruntun yakni salah satunya dengan rutin menghadiri majleis ilmu. Janganlah hanya menjadi “pencicip ilmu” (istilah dari Syaikh Fauzan), yakni mereka yang datang ke majelis ilmu hanya sesekali dan tidak rutin, mereka yang mendatangi satu majelis kemudian pertemuan berikutnya menghadiri majelis yang berbeda lagi. Hal seperti ini barangkali juga menjadi penghalang para Ikhwan untuk dapat menguasai bidang ilmu syariat secara baik.
Para ulama salaf menyatakan : “Jika engkau memberikan seluruh hidupmu untuk ilmu, maka ilmu hanya memberikan kepadamu sebagian dari dirinya”. Lantas bagaimana dengan orang-orang yang hanya datang mencari ilmu ketika sempat saja. Syaikh Utsaimin menyatakan bahwa : “Ilmu tidak akan didapatkan oleh mereka yang mencarinya hanya di waktu senggang”.
4.       Menuntut ilmu tanpa aturan yang jelas.
Berapa banyak kita dapati para Ikhwan yang mereka belum pernah mengaji/menuntut ilmu di lingkungan pondok kurang memahami manhaj dalam menuntut ilmu. Ketahuilah Adikku, ilmu syar’i juga memiliki metode dan kurikulum dalam mempelajarinya. Kajian tertentu bersifat umum, adapula yang khusus untuk dasar dan adapula yang ditujukan untuk tingkat lanjut. Hal-hal seperti ini mungkin jarang diketahui oleh para Ikhwan yang belum pernah “mondok”, sehingga menyebabkan mereka mencari ilmu secara membabi buta. Maksud membabi buta di sini adalah tanpa aturan kurikulum yang jelas ketika mencarinya.
Hendaknya penuntut ilmu memahami marhalah (tahapan) belajar, yakni mempelajari dimulai dari yang paling penting dengan kitab yang paling sederhana kemudian setelah tamat baru dilanjutkan ke kitab yang lain. Contohnya : dalam ilmu tafsir hadits, mempelajari syaroh Arba’in Nawawiyah (tafsir Syaikh Utsaimin atau Jami’ul Ulum wal Hikam –Ibnu Rojab) lebih dahulu dan setelah selesai baru dilanjutkan ke yang lebih sulit misalnya mempelajari syaroh Shohih Bukhori (kitab Fathul Bari –Ibnu Hajar). Barangkali permasalahan seperti ini juga dianggap remeh dan menjadi salah satu penyebab realita yang kau temukan di kalangan para Ikhwan.
5.       Menilai baik diri sendiri.
Maksudnya adalah merasa senang dan bangga ketika dipuji oleh orang lain, padahal belum tentu dirinya berhak atas pujian tersebut. Dan kalaupun dia memang pantas dipuji, maka senangnya tersebut akan membawa pada kesombongan. Perhatikanlah bahwa banyak di kalangan ikhwan kajian yang setelah lama ngaji justru ilmunya membawanya kepada sikap tinggi hati di tengah masyarakat. Ilmunya yang baru sedikit justru membawanya pada kebanggaan semu, ingin dianggap alim dalam keluarga, senang dipuji untuk sesuatu yang belum waktunya.
tbq6Ïtä¨r br& (#rßyJøtä $oÿÏ3 öNs9 (#qè=yèøÿtƒ Ÿxsù Nåk¨]u;|¡øtrB ;oy$xÿyJÎ/ z`ÏiB É>#xyèø9$# ( öNßgs9ur ë>#xtã ÒOŠÏ9r&
… dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih. (Ali Imron : 188)
Ini adalah penyakit kronis yang umum menjangkit, wal iyya dzubillah.
Adikku, penuntut ilmu dapat dikategorikan menjadi 3 tingkat. Tahap awal menuntut ilmu, para tholibul ilm akan merasakan bahwa dirinya adalah orang yang paling tahu dalam perkara-perkara syar’i di tengah masyarakat. Tahap selanjutnya jika ia menuntut ilmu lebih dalam maka para tholibul ilm akan merasakan bahwa ternyata banyak hal yang belum diketahuinya dalam perkara syariat ini. Tahap yang lebih lanjut, para tholibul ilm tingkat tinggi justru menyadari ternyata dirinya hanyalah orang yang jahil (bodoh).
Ilmu justru menjadikan mereka salah jalan, menjadi sombong, angkuh, tinggi hati, merasa paling benar, ta’ashub dan lain-lain. Ilmu yang sedikit justru mengarahkannya pada sikap fanatisme golongan, mudah memfonis sesat, merasa paling berhak atas surga Allah yang sangat luas. Barangkali ini juga merupakan penyebab dari realita di kalangan ikhwan salaf yang teramati olehmu.
6.       Tidak mengamalkan ilmu.
Untuk hal satu ini, mungkin kau sudah sering mempelajarinya. Banyak dalil yang mencela manusia berilmu yang tidak mengamalkan ilmunya. Ilmunya kian hari makin bertambah tetapi amalannya tidak ada yang berubah. Ingatlah bahwa ilmu (al Qur’an) adalah hujjah pembela bagi siapa yang menggunakannya dan menjadi hujjah penuntut bagi siapa yang tidak mengamalkannya.
Berapa banyak di kalangan tholibul ilm yang hanya menjadi buku catatan berjalan, ilmunya sebatas di dalam kepala dan tidak membekas dalam perbuatan. Sebagaimana bahan material yang rapi tertata (ada batu bata, tumpukan asbes, tumpukan semen, pasir sungai, batu kapur, dsb.) tetapi hanya menjadi toko bahan bangunan dan tidak pernah menjadi bangunan yang kokoh yang bisa melindunginya dari panas dan hujan. Siang-malam dirinya mengumpulkan ilmu (tauhid, hadits, fiqih, aqidah, akhalq, dsb.) dan disusun secara rapi di otak, tetapi tidak pernah membangun sebuah bangunan manhaj yang jelas dan kokoh dalam beragama yang bisa melindunginya dari badai fitnah syahwat maupun syubhat.
Barang kali ini pula yang menjadi salah satu sebab dari realita di kalangan para ikhwan yang kau tanyakan.

Demikian sedikit yang bisa Mas jelaskan, mungkin tidak bisa menjawab pertanyaanmu, tapi semoga membantumu menemukan jawaban atas yang kau tanyakan. Maaf karena membuatmu menunggu lebih dari 24 jam karena sedikit waktu yang aku miliki untuk menuliskan ini dan sangat sedikit ilmu yang sama-sama kita telah ketahui, Mas hanya mengingatkan saja.
Dan akhirnya, sebagai penutup dari tulisan ini, Mas ingatkan bahwa manhaj bukanlah kelompok. Manhaj salaf bukanlah monopoli golongan tertentu. Manhaj Rasulullah adalah jelas, beliau sholat malam di 1/3 malam terakhir, sholat Subuh kemudian dzikir sampai matahari terbit, beliau bekerja, berdakwah dan berjihad bersama masyarakat shohabat, beliau melakukan pekerjaan rumah tangga, beliau adalah orang yang paling baik dalam mengingat Allah, menyukai kelemahlembutan, mencintai orang berilmu dan mengajari orang yang belum berilmu dengan sabar, dan lain-lain. Lantas di manakah kita ? Ketika kita merasa berada di atas sunnah, di mana posisi kita dibanding beliau ?
Manhaj ini bukanlah sekedar ilmu mengelompokkan ahlul bid’ah serta strategi dan cara menghancurkanya. Teruslah berdoa pada Allah memohon ilmu, kelembutan hati, kekuatan untuk istiqomah dan petunjuk membedakan serta memilih dan menjalani Al haq dari Al bathil. Allahu a’lam bis showwab..........
Semoga Allah memberikan kepada kita semua hikmah dan kebaikan dari tulisan pendek ini. Tulisan ini khusus dibuat untukmu, silakan jika ingin menyimpannya.

Wassalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh

Bekasi, 30 Juni 2011, ba’da Shubuh
Dari saudaramu yang fakir,

(Abu Musa Renan Rahardian)