Kepada : Adikku,
Yunus di bumi yang dirohmati Allah
Assalamualaikum
warohmatullohi wabarokatuh
Segala puji bagi Allah yang telah memberikan petunjuk kepada hambaNya yang
Dia kehendaki. Maha suci Allah yang dengan kesempurnaan ilmu dan hikmahNya menentukan
kebaikan untuk makhluk-makhluk yang hidup maupun mati. Tiada Ilah yang berhak
diibadahi selain Allah dan Muhammad adalah hamba serta utusanNya.
Adikku, merupakan suatu taqdir yang sangat indah ketika kita dikaruniai nikmat
yang khusus, yang hanya diberikan kepada hamba tertentu, yang membuat para Raja
akan berperang untuk merebutnya, yang banyak manusia harus kehilangan hal-hal
yang dicintai untuk memperolehnya. Nikmat yang disebut dengan menjalani hidup
di atas Sunnah. Sungguh, nikmat ini harus kita syukuri dengan cara yang benar
dan tepat sehingga Allah menambahnya untuk kita semua.
Akan tetapi Adikku, banyak di antara ikhwan yang ketika menyadari nikmat
ini, bersama dengan itu muncul kebingungan. Suatu fitnah syubhat yang memang
tanpa kita sadari disusupkan kepada hati-hati para pemuda yang sedang mulai
bersemangat mempelajari sunnah. Syubhat berupa kerancuan yang akhirnya terpaksa
harus diakui telah meruntuhkan semangat dan menyeret kembali para pemuda sunnah
ke arah yang justru menuju sikap hizbiyah, ekstrem, dan ta’ashub. Semoga Allah
menjauhkan kita dari segala hal yang menjauhkan dari surga Allah.
Adikku, kau menanyakan dua hal :
1.
Mengapa banyak Ikhwan yang sudah lama ngaji tapi
belum bisa memberikan penjelasan dan dalil-dalil terkait suatu perkara yang
ditanyakan pada mereka ?
2.
Bagaimana cara belajar Islam yang efektif ?
Ketahuilah, sangat sulit untuk menjawab dua pertanyaan tersebut. Bisa jadi
aku merupakan salah satu dari sekian Ikhwan yang engkau maksudkan. Akan tetapi
sedikit yang aku bisa katakan semoga membantumu menemukan jawaban atas dua
pertanyaan tersebut
Menuntut ilmu adalah ibadah, maka sebagaimana ibadah yang lain syaithon
selalu siap untuk menghalangi dan mengganggu manusia untuk melakukannya. Berikut
ini beberapa hal yang termasuk penghalang menuntut ilmu :
1.
Keliru dalam niat.
Niat yang salah dalam menuntut ilmu, yakni tidak
ikhlas, menjadikan rusaknya ilmu yang ada di dalam hati seseorang. Pahala tidak
diperoleh, ilmu tidak bermanfaat dan amalan menjadi rusak apabila seseorang menuntut ilmu bukan karena
mencari keridhoan Allah. Padahal menuntut ilmu adalah suatu amalan ibadah yang
mulia. Barangkali perkara niat ini adalah perkara terpenting yang paling banyak
dilalaikan para penuntut ilmu.
Adikku, ketahuilah bahwa niat yang tercampur
merupakan akibat dari godaan syaithon, hal ini tidaklah menjadi hal yang
mengherankan kita. Yang semestinya membuat kita heran adalah apabila seseorang
tidak mau berusaha melawan gangguan syaithon tersebut, membersihkan niat dan justru memelihara niat yang tidak ikhlas.
2.
Ingin tampil di depan orang lain dan ingin
terkenal.
Adikku, Imam Asy Syathibi berkata : “Sesuatu
yang terakhir hilang dari hati orang-orang yang sholih adalah keinginan untuk
tampil dan menguasai orang lain.”
Sebenarnya hal ini masih terkait dengan
permasalahan niat. Pembahasannya menjadi khusus karena fitnah ini menjadi
permasalahan paling serius yang menjangkit hati para penuntut ilmu. Semoga
Allah menjauhkan kita dari niat buruk seperti ini. Adikku, perhatikanlah bahwa
sungguh Umar ibnul Khottob pernah mencela Ubay bin Ka’ab karena banyaknya
orang-orang yang senantiasa berjalan mengikuti di belakangnya. Umar bin Khottob
menyatakan bahwa hal tersebut merupakan fitnah bagi yang diikuti dan kehinaan
bagi yang mengikuti.
Barangkali inilah musuh kita dalam menuntut ilmu
sehingga kau menemukan banyak realita di kalangan para ikhwan yang telah lama
mengaji, dikarenakan Allah enggan memberikan ilmu pada mereka yang tidak ikhlas
dalam mencarinya.
3.
Enggan menjalani majelis ilmu (hanya sekedar menjadi
pencicip ilmu).
“Innamal ilmu bi ta’alumi” (Sesungguhnya ilmu hanya diperoleh dengan
dicari). Di dalam potongan pernyataan hadits ini terdapat pula makna bahwasanya
ilmu haruslah dicari secara terus menerus, tanpa berhenti, tanpa kalah oleh
lelah dan senantiasa iltizam. Imam Syafi’i menyatakan bahwa salah satu cara
memperoleh ilmu adalah dengan mulazamah.
Ilmu haruslah dicari secara beruntun yakni salah
satunya dengan rutin menghadiri majleis ilmu. Janganlah hanya menjadi “pencicip
ilmu” (istilah dari Syaikh Fauzan), yakni mereka yang datang ke majelis ilmu
hanya sesekali dan tidak rutin, mereka yang mendatangi satu majelis kemudian
pertemuan berikutnya menghadiri majelis yang berbeda lagi. Hal seperti ini
barangkali juga menjadi penghalang para Ikhwan untuk dapat menguasai bidang
ilmu syariat secara baik.
Para ulama salaf menyatakan : “Jika engkau
memberikan seluruh hidupmu untuk ilmu, maka ilmu hanya memberikan kepadamu
sebagian dari dirinya”. Lantas bagaimana dengan orang-orang yang hanya datang mencari
ilmu ketika sempat saja. Syaikh Utsaimin menyatakan bahwa : “Ilmu tidak akan
didapatkan oleh mereka yang mencarinya hanya di waktu senggang”.
4.
Menuntut ilmu tanpa aturan yang jelas.
Berapa banyak kita dapati para Ikhwan yang mereka
belum pernah mengaji/menuntut ilmu di lingkungan pondok kurang memahami manhaj
dalam menuntut ilmu. Ketahuilah Adikku, ilmu syar’i juga memiliki metode dan
kurikulum dalam mempelajarinya. Kajian tertentu bersifat umum, adapula yang
khusus untuk dasar dan adapula yang ditujukan untuk tingkat lanjut. Hal-hal
seperti ini mungkin jarang diketahui oleh para Ikhwan yang belum pernah
“mondok”, sehingga menyebabkan mereka mencari ilmu secara membabi buta. Maksud
membabi buta di sini adalah tanpa aturan kurikulum yang jelas ketika
mencarinya.
Hendaknya penuntut ilmu memahami marhalah
(tahapan) belajar, yakni mempelajari dimulai dari yang paling penting dengan
kitab yang paling sederhana kemudian setelah tamat baru dilanjutkan ke kitab
yang lain. Contohnya : dalam ilmu tafsir hadits, mempelajari syaroh Arba’in
Nawawiyah (tafsir Syaikh Utsaimin atau Jami’ul Ulum wal Hikam –Ibnu Rojab)
lebih dahulu dan setelah selesai baru dilanjutkan ke yang lebih sulit misalnya
mempelajari syaroh Shohih Bukhori (kitab Fathul Bari –Ibnu Hajar). Barangkali
permasalahan seperti ini juga dianggap remeh dan menjadi salah satu penyebab
realita yang kau temukan di kalangan para Ikhwan.
5.
Menilai baik diri sendiri.
Maksudnya adalah merasa senang dan bangga ketika
dipuji oleh orang lain, padahal belum tentu dirinya berhak atas pujian
tersebut. Dan kalaupun dia memang pantas dipuji, maka senangnya tersebut akan
membawa pada kesombongan. Perhatikanlah bahwa banyak di kalangan ikhwan kajian
yang setelah lama ngaji justru ilmunya membawanya kepada sikap tinggi hati di
tengah masyarakat. Ilmunya yang baru sedikit justru membawanya pada kebanggaan
semu, ingin dianggap alim dalam keluarga, senang dipuji untuk sesuatu yang
belum waktunya.
tbq6Ïtä¨r br& (#rßyJøtä $oÿÏ3 öNs9 (#qè=yèøÿt xsù Nåk¨]u;|¡øtrB ;oy$xÿyJÎ/ z`ÏiB É>#xyèø9$# ( öNßgs9ur ë>#xtã ÒOÏ9r&
… dan mereka suka supaya
dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan janganlah kamu menyangka
bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih. (Ali Imron : 188)
Ini adalah penyakit kronis yang umum menjangkit, wal
iyya dzubillah.
Adikku, penuntut ilmu dapat dikategorikan menjadi
3 tingkat. Tahap awal menuntut ilmu, para tholibul ilm akan merasakan bahwa
dirinya adalah orang yang paling tahu dalam perkara-perkara syar’i di tengah
masyarakat. Tahap selanjutnya jika ia menuntut ilmu lebih dalam maka para
tholibul ilm akan merasakan bahwa ternyata banyak hal yang belum diketahuinya
dalam perkara syariat ini. Tahap yang lebih lanjut, para tholibul ilm tingkat
tinggi justru menyadari ternyata dirinya hanyalah orang yang jahil (bodoh).
Ilmu justru menjadikan mereka salah jalan, menjadi
sombong, angkuh, tinggi hati, merasa paling benar, ta’ashub dan lain-lain. Ilmu
yang sedikit justru mengarahkannya pada sikap fanatisme golongan, mudah
memfonis sesat, merasa paling berhak atas surga Allah yang sangat luas. Barangkali
ini juga merupakan penyebab dari realita di kalangan ikhwan salaf yang teramati
olehmu.
6.
Tidak mengamalkan ilmu.
Untuk hal satu ini, mungkin kau sudah sering mempelajarinya.
Banyak dalil yang mencela manusia berilmu yang tidak mengamalkan ilmunya.
Ilmunya kian hari makin bertambah tetapi amalannya tidak ada yang berubah.
Ingatlah bahwa ilmu (al Qur’an) adalah hujjah pembela bagi siapa yang
menggunakannya dan menjadi hujjah penuntut bagi siapa yang tidak
mengamalkannya.
Berapa banyak di kalangan tholibul ilm yang hanya
menjadi buku catatan berjalan, ilmunya sebatas di dalam kepala dan tidak
membekas dalam perbuatan. Sebagaimana bahan material yang rapi tertata (ada
batu bata, tumpukan asbes, tumpukan semen, pasir sungai, batu kapur, dsb.)
tetapi hanya menjadi toko bahan bangunan dan tidak pernah menjadi bangunan yang
kokoh yang bisa melindunginya dari panas dan hujan. Siang-malam dirinya
mengumpulkan ilmu (tauhid, hadits, fiqih, aqidah, akhalq, dsb.) dan disusun
secara rapi di otak, tetapi tidak pernah membangun sebuah bangunan manhaj yang
jelas dan kokoh dalam beragama yang bisa melindunginya dari badai fitnah
syahwat maupun syubhat.
Barang kali ini pula yang menjadi salah satu sebab
dari realita di kalangan para ikhwan yang kau tanyakan.
Demikian sedikit yang bisa Mas jelaskan, mungkin
tidak bisa menjawab pertanyaanmu, tapi semoga membantumu menemukan jawaban atas
yang kau tanyakan. Maaf karena membuatmu menunggu lebih dari 24 jam karena
sedikit waktu yang aku miliki untuk menuliskan ini dan sangat sedikit ilmu yang
sama-sama kita telah ketahui, Mas hanya mengingatkan saja.
Dan akhirnya, sebagai penutup dari tulisan ini,
Mas ingatkan bahwa manhaj bukanlah kelompok. Manhaj salaf bukanlah monopoli
golongan tertentu. Manhaj Rasulullah adalah jelas, beliau sholat malam di 1/3
malam terakhir, sholat Subuh kemudian dzikir sampai matahari terbit, beliau
bekerja, berdakwah dan berjihad bersama masyarakat shohabat, beliau melakukan
pekerjaan rumah tangga, beliau adalah orang yang paling baik dalam mengingat
Allah, menyukai kelemahlembutan, mencintai orang berilmu dan mengajari orang
yang belum berilmu dengan sabar, dan lain-lain. Lantas di manakah kita ? Ketika
kita merasa berada di atas sunnah, di mana posisi kita dibanding beliau ?
Manhaj ini bukanlah sekedar ilmu mengelompokkan
ahlul bid’ah serta strategi dan cara menghancurkanya. Teruslah berdoa pada
Allah memohon ilmu, kelembutan hati, kekuatan untuk istiqomah dan petunjuk
membedakan serta memilih dan menjalani Al haq dari Al bathil. Allahu a’lam
bis showwab..........
Semoga Allah memberikan kepada kita semua hikmah
dan kebaikan dari tulisan pendek ini. Tulisan ini khusus dibuat untukmu,
silakan jika ingin menyimpannya.
Wassalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh
Bekasi, 30 Juni 2011, ba’da Shubuh
Dari saudaramu yang fakir,
(Abu Musa Renan Rahardian)