AMALAN KEBAIKAN
Allah telah menetapkan bahwasanya semua kebaikan akan dibalas dengan
kebaikan (pahala) yang berlipat ganda. Dan tidaklah ada satupun kebaikan yang
terluput melainkan pasti akan diperlihatkan balasannya di hari kiamat.
Ketahuilah bahwa seseorang tidak akan mampu melakukan kebaikan yang sempurna
(ikhlas dan sesuai sunnah) kecuali jika dia mengimani hari pembalasan, hari di
mana keburukan berada di siksa neraka dan kebaikan berada di kenikmatan surga.
Untuk semua inilah Allah memerintahkan manusia berlomba-lomba dan mendahului
meraihnya.
Kebaikan bukanlah suatu amalan yang sempit, akan tetapi ia luas dan berada
di setiap sendi-sendi kehidupan. Kebaikan adalah sesuatu yang ringan dilakukan
bagi mereka yang Allah berikan kemauan dan kemampuan. Oleh karena itu hanya
kepada Allah-lah kita memohon kemudahan untuk berbuat baik. Berikut ini adalah
beberapa faedah terkait dengan amalan kebaikan :
v Amalan kebaikan
adalah apa yang dianggap baik oleh Allah
Telah kita
pahami bersama bahwa amalan dibagi menjadi dua yakni kebaikan dan keburukan.
Maka harus kita pahami juga bahwa parameter mengukur kebaikan dan keburukan
adalah syariat Allah. Maksudnya, amalan kebaikan adalah segala amalan yang
dianggap baik oleh Allah dan amalan keburukan adalah segala amalan yang dibenci
oleh Allah. Dan dari semua dalil yang ada maka dapat kita ketahui bahwa amal
kebaikan adalah semua yang memenuhi dua syarat : Ikhlas dan sesuai petunjuk
Nabi. Konsekuensinya, langkah pertama dari beramal baik adalah mengilmui amalan
tersebut, karena tidak dikatakan beramal baik mereka yang beramal dalam keadaan
tidak peduli niatnya dan bagaimana kesesuaiannya dengan petunjuk Nabi.
v Bersegeralah
beramal kebaikan
Ketika kita
memiliki keinginan untuk beramal baik, maka bersegeralah untuk melaksanakan.
Karena bisa jadi nanti Allah akan mencabut nikmat dari kita berupa keinginan
dan kemampuan untuk beramal baik. Dikarenakan hanya dengan nikmat Allah itulah
manusia dapat beribadah dan beramal kebaikan. Kita tidak pernah tahu apa yang
akan terjadi di waktu kemudian ketika kita menunda-nunda amalan.
Rasulullah
telah memberitahukan akan datangnya suatu fitnah yang akan menghalangi manusia
untuk beramal baik. Bisa jadi karena hilangnya kehendak karena adanya fitnah
syahwat maupun ketidaktahuan akan ilmu karena adanya fitnah syubhat.
Sampai-sampai kedahsyatan fitnah tersebut dalam waktu cepat dapat menjadikan
kafir orang yang sebelumnya beriman. Karena itu, Beliau memerintahkan kita
untuk bersegera beramal baik mendahului fitnah yang akan datang.
ÎóÇyèø9$#ur ÇÊÈ ¨bÎ) z`»|¡SM}$# Å"s9 Aô£äz ÇËÈ
Demi masa. Sesungguhnya manusia itu
benar-benar dalam kerugian (Al Ashr : 1-2)
Waktu
adalah ruang yang Allah berikan untuk manusia melakukan amalan. Di dalam
waktu-lah kita dapat melakukan amalan kebaikan dan dengan waktu yang kita
miliki-lah semua amalan kita terjadi. Itulah sebabnya Allah bersumpah dengan
waktu sebelum memberitahukan tentang kerugian manusia. Sedangkan kita
mengetahui bahwa waktu yang dimiliki oleh setiap manusia adalah terbatas, tidak
ada yang dapat menjamin bahwa ada di antara kita yang masih hidup dan berjalan
di dunia ini 60 tahun lagi. Di dalam waktu yang terbatas itulah hendaknya
manusia bersegera mengisinya dengan amalan kebaikan.
v Amal kebaikan
adalah sesuatu yang abadi di sisi Allah
Satu hal
yang juga wajib kita imani adalah bahwa amal kebaikan akan menjadi sesuatu yang
kekal di sisis Allah. Dan sampai saatnya nanti Allah akan memberikan balasan
bagi setiap amal manusia secara sempurna dan tidak mungkin terluput. Setiap
amalan (sekecil apapun) yang dilakukan oleh manusia akan dicatat oleh malaikat,
setiap tengah malam catatan tersebut diangkat ke langit. Manusia tidak akan
didzolimi akan catatan amalnya sedikitpun. Apa-apa yang dia temukan dalam
catatan amalnya adalah apa yang dia perbuat selama hidup di dunia.
v Amal kebaikan
mampu menghapuskan dosa
عَنْ أَبِي ذَرّ جُنْدُبْ بْنِ جُنَادَةَ وَأَبِي
عَبْدِ الرَّحْمَنِ مُعَاذ بْن جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنْ رَسُوْلِ اللهِ
صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ،
وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ
حَسَنٍ " [رواه
الترمذي وقال حديث حسن وفي بعض النسخ حسن صحيح]
Dari Abu Dzar, Jundub bin Junadah dan Abu Abdurrahman, Mu’az bin
Jabal radhiallahuanhuma dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam beliau
bersabda : “Bertakwalah kepada Allah dimana saja kamu berada, iringilah
keburukan dengan kebaikan niscaya menghapusnya dan pergauilah manusia
dengan akhlak yang baik “ (Riwayat Tirmidzi, dia berkata haditsnya hasan, pada sebagian
cetakan dikatakan hasan shahih).
Sudah merupakan
tabiat manusia untuk tergelincir ke arah kesalahan dikarenakan jiwa memang
senantiasa mengajak ke arah tersebut. Dalam sebuah hadits, Rasulullah telah
memberikan jalan keluar untuk mengatasi tabiat buruk itu, yakni dengan
melakukan amalan kebaikan agar menghapus dosa yang baru saja dilakukan.
v Bukanlah amal
kebaikan yang memasukkan manusia ke surga
Dan
akhirnya harus kita ketahui bahwa seseorang dimasukkan ke surga bukanlah karena
oleh karena amal kebaikan (ibadah)-nya, akan tetapi rahmat Allah-lah yang akan
memasukkan seseorang ke surga. Berapapun banyaknya amalan ibadah seseorang
tidak akan bisa membalas nikmat Allah yang dikaruniakan kepadanya semasa hidup,
maka bagaimana bisa memasukkan dia ke surga di akhirat ?
Hal ini wajib
kita ketahui agar seseorang tidak menjadi sombong atas amalan-amalannya, tidak
merasa yakin pasti masuk ke surga, dan senantiasa khawatir apabila
amalan-amalannya tidak diterima oleh Allah dan balasannya justru berupa neraka.
Dengan demikian, hendaknya kita beramal kebaikan (beribadah) hanya untuk meraih
ridho dan rahmat Allah.
Demikianlah risalah singkat ini mengenai amalan kebaikan. Amalan kebaikan
memiliki dimensi yang sangat luas, maka berlomba-lombalah untuk melakukannya
dan jangan membatasi sehingga menjadikannya sempit sehingga menafikan nikmat
keluasan dari Allah. Semoga Allah memberikan kepada kita semua kemudahan,
kehendak dan kemampuan untuk senantiasa beramal kebaikan. Amin. Allahu a’lam
bish showab................
Cepokojajar, 29
Romadhon 1433 H
(Abu Musa Renan
Rahardian)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar